1. Pastikan Anda berdiri di bidang yang benar

Minta penunjukan batas dan patok. Cocokkan posisi lapangan dengan informasi bidang yang diberikan. Jangan menilai hanya dari area contoh atau titik foto terbaik.

2. Uji akses sampai titik terakhir

Perhatikan lebar jalan, permukaan, kemiringan, tikungan, kemungkinan kendaraan berpapasan, dan kondisi saat hujan. Untuk rencana villa, bayangkan akses keluarga, material bangunan dan kendaraan layanan.

3. Baca kontur, bukan hanya panorama

Kontur memengaruhi desain bangunan, pekerjaan tanah, drainase dan biaya konstruksi. Tanah miring tidak otomatis buruk, tetapi harus dipahami konsekuensinya.

4. Periksa air dan drainase

Cari arah aliran air, saluran eksisting, bekas genangan, erosi, dan posisi bidang terhadap lereng. Tanyakan sumber air dan bagaimana pengelolaannya.

5. Konfirmasi listrik dan konektivitas

Pastikan titik jaringan listrik dan skema penyambungan. Uji sinyal seluler sesuai kebutuhan Anda.

6. Nilai view dari kavlingnya

View bisa berbeda hanya dalam jarak beberapa puluh meter karena elevasi, vegetasi dan bangunan. Jangan menganggap satu foto kawasan mewakili semua kavling.

7. Cocokkan dokumen dan proses transaksi

Tanyakan status hak, identitas pemegang hak, dokumen bidang, proses pemecahan bila ada, biaya transaksi, serta pihak yang menangani akta dan pendaftaran peralihan.

8. Periksa tata ruang sesuai rencana penggunaan

Keinginan membangun villa, homestay atau usaha tidak cukup hanya berdasarkan status sertifikat. Konfirmasi kesesuaian pemanfaatan ruang dan perizinan yang berlaku untuk titik tersebut.

9. Catat semua jawaban

Foto kondisi lapangan, catat pertanyaan yang belum terjawab, dan jangan merasa harus memutuskan saat itu juga. Survey yang baik menghasilkan daftar verifikasi, bukan sekadar kesan pertama.